Kajian
Fiqih Takwim (Kalender Islam)
Menurut
Muhammadiyah
Makalah ini disusun
untuk pemenuhan tugas mata kuliah
Fiqih Miqat
Dosen Pengampu:
Dr. H. Abd.
Salam Nawawi, M.Ag
Oleh :
Nurwahidah Fibrianty Alim
12.6.1.0289
UNIVERSITAS SUNAN GIRI
PROGRAM PASCASARJANA
PENDIDIKAN KADER ULAMA’
JURUSAN HUKUM ISLAM
KONSENTRASI ILMU FALAK
JOMBANG
|
BAB I
PENDAHULUAN
Kalender atau biasa disebut almanak atau
penanggalan telah menjadi bagian penting bagi kehidupan sehari-hari dalam
masyarakat. Kalender yang merupakan tonggak aktivitas bermasyarakat sangat
memerlukan sistem yang pasti untuk mengatur kegiatan yang akan dilakukan. Pada
awalnya kehidupan masyarakat sangatlah sederhana namun perkembangan yang
terjadi mempengaruhi kehidupan masyarakat yang juga kian kompleks. Hadirnya
kalender Islam bagi umat Islam sangat diperlukan khususnya terkait dengan
persoalan ibadah seperti Puasa Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Namun tidak bisa dipungkiri, saat ini
terdapat banyak varian kalender Islam yang beredar dikalangan umat Islam. Di
Indonesia saja berkembang beberapa kalender, seperti; 1) Kalender Islam Jawa,
2) Kalender Islam Muhammadiyah; 3) Kalender (Almanak) PBNU; 4) Kalender Islam
(Almanak ) menara Kudus; 5) Kalender Islam PERSIS ; 6) Kementerian Agama RI
membuat kalender rujukan yang disusun oleh Badan Hisab Rukyah (BHR) yang
beranggotakan berbagai unsur ormas Islam dan pakar terkait.
Beragamnya Kalender Islam yang ada merupakan
salah satu bukti ilmu falak telah mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Akan tetapi hal ini juga yang selalu mengusik umat Islam khususnya terkait
masalah peribadatan, yaitu Penentuan awal Puasa, Idul Fitri, dan Haji (Idul Adha).
Muhammadiyah yang merupakan salah satu Ormas
terbesar di Indonesia juga menyajikan metode dalam pembuatan kalender Islam. Muhammadiyah
dalam menetapkan awal bulan Hijriyah tersebut mengacu pada h}isa<b wuju>d al-hila>l (mila>d
al-hila>l). Sehingga menurut Muhammadiyah timbul
istilah garis batas wuju>d al-hila>l, yakni menghubungkan tempat-tempat yang mengalami terbenam
matahari dan bulan pada saat yang bersamaan sehingga terbentuk garis.
Bagi Muhammadiyah, wuju>d al-hila>l mengandung
pengertian sudah terjadi ijtima>’ (konjungsi) sebelum matahari terbenam, dan posisi bulan
positif di atas ufuk. oleh karena itu, Muhammadiyah merupakan salah satu Ormas
yang mendukung penggunaan hisab dan dapat dikatakan Ormas ini sebagai pelopor
penggunaan hisab di Indonesia untuk penentuan awal-awal bulan Hijriyah
khususnya bulan-bulan ibadah.
Muhammadiyah yang mengidentifikasikan dirinya
sebagai Mazhab Hisab, membentuk Majelis Tarjih sebagai badan yang diberi
wewenang mengeluarkan fatwa-fatwa
sebagai mekanisme ijtihad. Terkait persoalan ini, sesuai dengan tugas yang
diberikan, penulis akan mengkaji sistem penentuan Kalender Islam Muhammadiyah
kaitannya dengan metodologi dalam menentukan masalah berdasarkan al- Qur’an dan hadis maqbu<lah (yang
dapat diterima autentisitasnya).
BAB
II
KAJIAN
FIQIH TAKWIM (KALENDER ISLAM)
MENURUT
MUHAMMADIYAH
A.
Sejarah Kalender Islam (Takwim)
Kalender Islam atau Kalender Islam
berasal dari bahasa Arab:
التقويم الهجري;
at-taqwim al-hijri, adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang
berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya.[1]
Kalender ini dinamakan Kalender Islam, karena
pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622
M. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Islam juga
digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Islam menggunakan
peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender
Masehi) yang menggunakan peredaran Matahari.
Tokoh penggagas kalender Islam adalah Khalifah
Umar ibn al-Khattab.[2]
Gagasan ini muncul ketika Umar ibn al-Khattab memperoleh surat dari Abu Musa
al-Asy’ari, gubernur Kuffah.
Penetapan
Kalender Islam dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan
peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah. Kalender Islam juga
terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29-30 hari. Penetapan 12
bulan ini sesuai dengan firman Allah Subhana Wata'ala:
¨bÎ)
no£Ïã
Íqåk¶9$#
yZÏã
«!$#
$oYøO$#
u|³tã
#\öky
Îû
É=»tFÅ2
«!$#
tPöqt
t,n=y{
ÏNºuq»yJ¡¡9$#
ßöF{$#ur
!$pk÷]ÏB
îpyèt/ör&
×Pããm
4 Ï9ºs
ßûïÏe$!$#
ãNÍhs)ø9$#
4 xsù
(#qßJÎ=ôàs?
£`ÍkÏù
öNà6|¡àÿRr&
4 (#qè=ÏG»s%ur
úüÅ2Îô³ßJø9$#
Zp©ù!%x.
$yJ2
öNä3tRqè=ÏG»s)ã
Zp©ù!$2
4 (#þqßJn=÷æ$#ur
¨br&
©!$#
yìtB
tûüÉ)GãKø9$#
ÇÌÏÈ[3]
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada
sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia
menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan)
agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang
empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun
memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang
yang bertakwa.” (QS. At-Taubah; 36).
Sebelumnya,
orang Arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan
dalam Kalender Islam ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa,
tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW
adalah pada tahun gajah.Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur di zaman
Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan
surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan
saja, sehingga membingungkan.
Khalifah Umar
lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin
Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi
Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhan bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah
mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah SAW.
Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad SAW menjadi Rasul.
Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan
momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib (Madinah).
Maka semuanya
setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender
Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah SAW. Sedangkan nama-nama bulan
dalam Kalender Islam ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan
berlaku pada masa itu di wilayah Arab.
B.
Kajian Fiqih Takwim (Kalender Islam) Menurut
Pemikiran Muhammadiyah
Muhammadiyah merupakan organisasi kemasyarakatan tertua
di Indonesia. Organisasi ini didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November
1912 oleh K. H. Ahmad Dahlan atas saran yang diajukan para muridnya dan
beberapa orang anggota Budi Utomo untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan
yang bersifat permanen.[4]
Berdasarkan sejarahnya sebagai organisasi kemasyarakatan,
Muhammadiyah tidak hanya menangani masalah pendidikan, tetapi juga berbagai
usaha pelayanan masyarakat seperti kesehatan, pemberian hukum (fatwa), panti
asuhan, penyuluhan, dan lain-lain.
Adapun kaitannya pada usaha pelayanan masyarakat dalam
pemberian hukum (fatwa), Muhammadiyah mendirikan Majelis Tarjih yang berfungsi
untuk memastikan ketentuan hukum Islam mengenai masalah-masalah yang
dipertikaikan dalam masyarakat baik menyangkut baik yang menyangkut hukum fiqih
secara tradisional maupun hukum fiqih dalam pandangan luas.
Majelis Tarjih Muhammadiyah juga bertujuan mempelajari
pendapat berbagai fuqaha>’ dalam masalah-masalah yang dipertikaikan, lalu mengambil
pendapat yang arjah} (dipandang lebih kuat sesuai dengan cara berpikir dan
kondisi sekarang).[5]
Ciri jam‘a>i dari Majelis Tarjih ini
adalah pembahasan yang bersifat kolektif terhadap dalil-dalil yang kurang jelas
atau yidak tegas terhadap masalah tertentu yang dibicarakan. Sedangkan cirri
tarjihnya yakni Majelis Tarjih membicarakan masalah dengan sistem musyawarah
oleh sekelompok ahli yang mencari dalil-dalil yang dipandang kuat untuk
dijadikan dasar dalam memutuskan hukum suatu masalah.[6]
Dalam menetapkan sebuah
keputusan, Majelis Tarjih Muhammadiyah menggunakan tiga jenis ijtihad
sebagaimana berikut:
1.
Ijtihad baya>ni>,
yaitu ijtihad terhadap hadis yang mujmal,
baik karena belum jelas makna lafaz yang dimaksud maupun karena lafaz itu
mengandung makna ganda, mengandung arti musytarak,
ataupun karena pengertian lafaz dalam ungkapan konteksnya mempunyai arti
yang jumbuh (mutasya>bih) ataupun
adanya beberapa dalil yang bertentangan (ta’a>rudh).
2.
Ijtihad Qiya>s,
yaitu menyelenggarakan hukum yang telah ada nash-nya karena masalah baru
yang belum ada hukumnya, berdasarkan nash, karena adanya kesamaan.
3.
Ijtihad Istis{la>h{i>,
yaitu ijtihad terhadap masalah yang tidak dilanjutkan nash jama>‘i secara khusus, maupun tidak adanya nash mengenai
masalah yang ada kesamaan dan masalah yang demikian penetapan hukumn dilakukan
berdasarkan ‘illat untuk
kemashlahatan.[7]
Jadi, kegiatan utama
Majelis Tarjih adalah menganalisis berbagai pendapat tentang ketentuan hukum
Islam dengan tujuan untuk mendapatkan pendapat yang paling kuat.
Merujuk pada tugas pokok dan kegiatan yang dilakukan Majelis
Tarjih yang meliputi berbagai bidang hukum Islam, maka termasuk didalamnya
adalah persoalan hisab rukyah yang salah satunya terkait mengenai kalender Islam.
Karena majelis ini merupakan lembaga ijtihad Muhammadiyah, sehingga
pemikiran-pemikiran hisab rukyah Muhammadiyah produk dari Majelis Tarjih ini.
Terkait masalah kajian kalender Islam yang menjadi
pembahasan utama makalah ini, pemikiran fiqihnya tertuang dalam Putusan Majelis
Tarjih Muhammadiyah Sebagai berikut:
“Berpuasa dan Id Fitrah itu dengan rukyah dan tidak
berhalangan dengan hisab. Menilik hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa
Rasulullah SAW bersabda:
صُومُوا
لِرُؤْيَتِه، وأفطروا لِرُؤْيَتِه، فإنْ غُمَّ عليكم فأكملوا عدّة شعبان ثلاثين
Artinya: Berpuasalah kamu sekalian karena melihat
hilal (ramad}an) dan berbukalah kamu sekalian karena melihat hilal (syawal),
jika tertutup atas kamu sekalian maka sempurnakanlah bilangan bulan sya’ban
menjadi tiga puluh hari).[8]
Dan firman Allah:
uqèd Ï%©!$# @yèy_ [ôJ¤±9$# [ä!$uÅÊ tyJs)ø9$#ur #YqçR ¼çnu£s%ur tAÎ$oYtB (#qßJn=÷ètFÏ9 yytã tûüÏZÅb¡9$# z>$|¡Åsø9$#ur 4 $tB t,n=y{ ª!$# Ï9ºs wÎ) Èd,ysø9$$Î/ 4 ã@Å_Áxÿã ÏM»tFy$# 5Qöqs)Ï9 tbqßJn=ôèt ÇÎÈ
Artinya: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan
bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi
perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan
(waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia
menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui).
QS. Yunus; 5.[9]
Apabila ahli hisab menetapkan bahwa bulan belum tampak
(tanggal) atau sudah wuju>d tetapi
tidak kelihatan, padahal kenyataannya ada orang yang melihat pada malam itu
juga, manakah yang muktabar? Majelis Tarjih memutuskan rukyahlah yang muktabar.”[10]
Menilik hadis dari yang telah tertulis di atas.
Mengenai kalimat sudah wuju>d
dalam
keputusan Majelis Tarjih tersebut mengandung pengertian:
1.
Sudah
terjadi ijtima>’ qabl al-ghuru>b.
2.
Posisi
bulan sudah positif di atas ufuk.
Sedangkan tentang keputusan Majelis Tarjih bahwa
rukyahlah yang muktabar, hal ini dengan syarat hila>l
sudah wuju>d. Bila hila>l belum wuju>d yakni posisi bulan
negatif terhadap ufuk, maka ketentuan “rukyahlah yang muktabar” tidak berlaku.[11]
Ini merupakan pemikiran yang disepakati sejak tahun 1969
oleh para pakar astronomi Muhammadiyah, sampai hal itu ditinjau kembali oleh
Muktamar Tarjih th. 1972/1932 H di Pencongan, Wiradesa, Pekalongan.
Kemudian mengenai hisab yang menurut majelis ini memenuhi
persyaratan adalah metode yang dikembangkan oleh Sa’adoeddin Djambek. Sehingga
bagi Muhammadiyah, menentukan tanggal dengan perhitungan Matematik (h{isa>b qath‘i>) adalah ijtihad yang paling tepat.
Para pakar astronomi Muhammadiyah
juga menggunakan ayat-ayat al-Qur’an dan juga hadis Nabi SAW sebagai dasar untuk mendukung
kebolehan penggunaan hisab. Diantaranya adalah firman Allah SWT adalah surat
ar-Rahma>n
ayat 5 dan surah surah Yunus ayat 5:
ߧôJ¤±9$# ãyJs)ø9$#ur 5b$t7ó¡çt¿2 ÇÎÈ
Artinya: Matahari dan bulan
(beredar) menurut perhitungan.[12]
uqèd Ï%©!$# @yèy_ [ôJ¤±9$# [ä!$uÅÊ tyJs)ø9$#ur #YqçR ¼çnu£s%ur tAÎ$oYtB (#qßJn=÷ètFÏ9 yytã tûüÏZÅb¡9$# z>$|¡Åsø9$#ur 4 $tB t,n=y{ ª!$# Ï9ºs wÎ) Èd,ysø9$$Î/ 4 ã@Å_Áxÿã ÏM»tFy$# 5Qöqs)Ï9 tbqßJn=ôèt ÇÎÈ
Artinya:
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan
ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu,
supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak
menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. dia menjelaskan tanda-tanda
(kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui.[13]
Adapun hadis yang menunjukkan bahwa perintah Nabi SAW
agar melakukan rukyah itu adalah perintah yang disertai illat, yaitu saat keadaan
umat masih ummi, sehingga apabila keadaan itu telah berlalu, maka perintah
tersebut tidak berlaku lagi. Sebagaimana hadis Nabi SAW tersebut:
إنا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب الشهر
هكذا وهكذا يعني مرّة تسعة وعشرين ومرّة ثلاثين (رواه البخاري ومسلم)
Artinya:
Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa
melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Maksudnya adalah
kadang-kadang dua puluh sembilan hari, dan kadang-kadang tiga puluh hari [HR
al-Bukha>ri> dan Muslim].[14]
Cara
memahaminya (wajh al-istidla>lnya) adalah bahwa pada surat ar-Rahma>n
ayat 5 dan surat Yunus
ayat 5, Allah swt menegaskan bahwa benda-benda langit berupa matahari dan Bulan beredar dalam
orbitnya dengan hukum-hukum yang pasti sesuai dengan ketentuan-Nya. Oleh karena
itu, peredaran benda-benda langit tersebut dapat dihitung (dihisab) secara
tepat. Penegasan kedua ayat ini tidak sekedar pernyataan informatif belaka,
karena dapat dihitung dan diprediksinya peredaran benda-benda langit itu, khususnya
matahari dan Bulan, bisa diketahui manusia sekalipun tanpa informasi samawi.
Penegasan itu justru merupakan pernyataan imperatif yang memerintahkan untuk
memperhatikan dan mempelajari gerak dan peredaran benda-benda langit itu yang
akan membawa banyak kegunaan seperti untuk meresapi keagungan Penciptanya, dan
untuk kegunaan praktis bagi manusia sendiri antara lain untuk dapat menyusun
suatu sistem pengorganisasian waktu yang baik seperti dengan tegas dinyatakan
oleh ayat 5 surat Yunus
(... agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu) .
Pada
zamannya, Nabi SAW dan para Sahabatnya tidak menggunakan hisab untuk menentukan
masuknya bulan baru kamariah, melainkan menggunakan rukyat seperti beberapa
hadis lain yang memerintahkan melakukan rukyat. Praktik dan perintah Nabi SAW agar
melakukan rukyat itu adalah praktik dan perintah yang disertai ‘illat (kausa hukum). ‘Illatnya dapat dipahami dalam hadis yang
telah dipaparkan di atas, yaitu keadaan umat pada waktu itu yang masih ummi. Keadaan
ummi artinya adalah belum menguasai baca tulis dan ilmu hisab (astronomi),
sehingga tidak mungkin melakukan penentuan awal bulan dengan hisab seperti
isyarat yang dikehendaki oleh al-Quran dalam surat ar-Rahma>n dan Yunus di atas. Cara yang
mungkin dan dapat dilakukan pada masa itu adalah dengan melihat hilal (Bulan)
secara langsung: bila hilal terlihat secara fisik berarti bulan baru dimulai
pada malam itu dan keesokan harinya dan bila hilal tidak terlihat, bulan
berjalan digenapkan 30 hari dan bulan baru dimulai lusa.
Sesuai
dengan kaidah Fiqih (al- qawa>‘id
al-fiqhiyyah) yang berbunyi:
الحكم يدور مع علته وسببه وجودا وعدما
Artinya:
Hukum itu berlaku menurut ada atau tidak adanya ‘illat dan
sebabnya.[15]
Telah
jelas bahwa misi al-Quran adalah untuk mencerdaskan umat manusia, dan misi ini
adalah sebagian tugas yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW dalam dakwahnya. Ini
ditegaskan dalam firman Allah,
uqèd Ï%©!$# y]yèt/ Îû z`¿ÍhÏiBW{$# Zwqßu öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Ft öNÍkön=tã ¾ÏmÏG»t#uä öNÍkÏj.tãur ãNßgßJÏk=yèãur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% Å"s9 9@»n=|Ê &ûüÎ7B ÇËÈ
Artinya:
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang
buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada
mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah).
dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.[16]
Dalam rangka mewujudkan misi ini, Nabi SAW menggiatkan
upaya belajar baca tulis seperti terlihat dalam kebijakannya membebaskan
tawanan Perang Badar dengan tebusan mengajar kaum Muslimin baca tulis, dan
beliau memerintahkan umatnya agar giat belajar ilmu pengetahuan. Sementara umat
masih dalam keadaan ummi, maka metode penetapan awal bulan dilakukan dengan
rukyat buat sementara waktu. Namun setelah umatnya dapat dibebaskan dari
keadaan ummi itu, maka kembali kepada semangat umum al-Quran agar menggunakan
hisab untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.
Atas dasar itu, beberapa ulama kontemporer
menegaskan bahwa pada pokoknya penetapan awal bulan itu adalah dengan
menggunakan hisab,
الأصل
في إثبات الشهر أن يكون بالحساب.
Artinya : Pada
asasnya penetapan bulan kamariah itu adalah dengan hisab.[17]
Hisab yang dimaksud dan digunakan untuk
penentuan awal bulan baru kamariah di lingkungan Muhammadiyah adalah h}isa>b wuju>d al-hila>l dengan dasar tafsir
al-Manar II:
“hisab
astronomi yang terkenal di masa kita ini memberikan penyempurnaan yang pasti.
Sebagaimana yang telah diterangkan pada pemimpin umat Islam dan pemerintahannya
yang telah mempunyai ketetapan tentang hisab tersebut, boleh mengeluarkan
keputusan untuk mempergunakan perhitungan tersebut. Perhitungan ini menjadi hudan (petunjuk) atas masyarakat. Ru‘yah Hila>l untuk pelaksanaan
puasa, seperti halnya melihat matahari tatkala akan shalat bukan merupakan ta‘abudi. Adapun Rasul, sahabat, dan
ulama salaf melaksanakan rukyat karena pada saat itu mereka belum biasa
melaksanakan perhitungan (hisab) yang belum memberikan kepastian, jadi untuk
menentukan awal bulan cukup dengan hisab dan tidak perlu dengan rukyat.” [18]
H}isa<b wuju>d
al-hila>l yang
dimaksud sebagaimana dikemukakan Muhammad Wardan (mantan Pimpinan Pusat
Muhammadiyah), bahwa wuju>d
al-hila>l adalah matahari lebih dahulu terbenam daripada terbenamnya
bulan walaupun hanya satu menit atau kurang. Dimana dalam menentukan tanggal 1
bulan baru berdasarkan hisab dengan tiada batasan tertentu, pokoknya asal hilal
sudah wujud, maka menurut kalangan ahli hisab sudah berdasarkan h}isa<b wuju>d al-hila>l, dan
dapat ditentukan hari esoknya adalah awal bulan kamariah.
Menurut
Oman Fathurrahman, dengan sistem h}isa<b
wuju>d al-hila>l, maka ada istilah garis batas wuju>d al-hila>l yakni tempat-tempat yang mengalami
terbenamnya matahari dan bulan secara bersamaan. Jika tempat-tempat itu
dihubungkan maka terbentuklah sebuah garis.[19]
Wilayah yang berada di sebelah barat garis
batas wuju>d al-hila>l terbenamnya matahari lebih dulu daripada terbenamnya, oleh karena itu pada saat
terbenam matahari, bulan berada di atas ufuk. dengan kata lain bulan sudah
wujud dan sejak matahari terbenam tersebut bulan baru sudah mulai masuk.
Sebaliknya wilayah yang berada di sebelah timur garis batas wuju>d al-hila>l terbenamnya bulan lebih dahulu daripada
terbenamnya matahari, oleh karena itu pada saat matahari terbenam, bulan berada
di bawah ufuk, dengan kata lain bulan belum wujud dan saat matahari terbenam
keesokan harinya bulan baru belum baru masuk melainkan masih termasuk akhir
dari bulan yang sedang berlangsung.
BAB
III
PENUTUP
Berdasarkan
pembahasan makalah di atas, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan,
antara lain:
1.
Muhammadiyah
sebagai simbol Mazhab Hisab.
2.
Majelis
Tarjih sebagai Lembaga pelayanan masyarakat dalam pemberian hukum (fatwa) yang
didirikan Muhammadiyah.
3.
Sistem
penentuan kalender Islam Muhammadiyah kaitannya dengan metodologi dalam
menentukan masalah berdasarkan al- Qur’an
dan hadis maqbu<lah (yang dapat diterima autentisitasnya).
4.
Muhammadiyah
menggunakan h}isa<b wuju>d
al-hila>l sebagai
sistem penentuan kalender Islam.
[1] Wikipedia, “Kalender Islam”, dalam
http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Hijriyah
(06 Maret
2013).
[2] Kumpulan Papers Lokakarya
Internasional Fakultas Syariah IAIN Walisongo, Penyatuan Kalender Islam (Sebuah Upaya Pencarian Kriteria Hilal yang
Objektif Ilmiah), (Semarang: Elsa,
2012), 65.
[3] al-Qur’an, 09: 36.
[4] Ahmad Izzuddin, Fiqih Hisab Rukyah (Jakarta: Penerbit
Erlangga, 2007), 111.
[5] Lihat Wahbah al-Zuhaili, Ushu>l al-Fiqh al-Isla>mi>, jilid
II (Damaskus: Dar al-Fikr, 1987) 1185-1186.
[6] PP. Muhammadiyah, Himpunan Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah
(Yogyakarta: t.t), 240.
[7] Pokok-pokok Manhaj Majelis
Tarjih yang telah dilakukan dalam menetapkan Keputusan, Dokumen Resmi Pimpinan
Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta, t.t., 2-3.
[8]Hadith S{ah}i>h} berdasar
riwayat imam al-Bukha>ri> dalam S{ahi>h al-Bukhari Kitab al-S{au>m
nomor indeks 1909, Imam Muslim dalam S{ahi>h Muslim kitab al-Siya>m nomor
indeks 1081, al-Nasa’i dalam Sunan al-Nasa’i kitab al-Siya>m nomor indeks
2116, Ahmad bin H{ambal dalam musnadnya dengan nomor indeks 9892. Selain itu
hadith ini juga diriwayatkan oleh al-Tirmi>dzi, Ibnu Ma>jah,
al-Da>rimi dan sebagainya berdasar banyak jalur periwayatan.
[9] al-Qur’an, 10: 5.
[10] Keputusan Muktamar Tarjih Wiradesa
dalam Himpunan Putusan Tarjih, 370.
[11] Keterangan Keputusan Majelis
Tarjih ini sebagaimana dinukil oleh Basith Wachid dalam makalahnya “Hisab Untuk
Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan,”dalam Ru’yah
Dengan Teknologi (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), 95.
[12] al-Qur’an, 55: 5
[13] al-Qur’an, 10: 5
[14] Al-Bukha>ri> , S{ah{i>h{ al- Bukha>ri> (Ttp.:
Da>r al-Fikr, 1994/1414), II: 281, hadis no. 1913, “Kita>b as{-S{aum ”
dari Ibn ‘Umar; Muslim, S{ah{i>h{
Muslim (Beirut: Da>r al-Fikr, 1992/1412) I: 482, hadis no. 1080:15, “Kita>b
as{-S{iya>m” dari Ibn ‘Umar.
[15] Ibn al-Qayyim, I‘la>m al-Muwaqqi‘i>n ‘an Rabb al-‘a>lami>n
(Beirut: Dar al-Jil, 1973), IV: 105.
[16] al-Qur’an, 62: 2
[17] Tim Majelis Tarjih dan
Tajdid PP Muhammadiyah, Pedoman Hisab
Muhammadiyah (Yogyakarta: Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, 2009),
77-78.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar